Deretan Pemain Muda yang Diprediksi Bersinar di Liga 1

👍 Liga Indonesia

Deretan Pemain Muda yang Diprediksi Bersinar di Liga 1

Deretan Pemain Muda yang Diprediksi Bersinar di Liga 1

Kompetisi GoJek Traveloka Liga 1 akan memulai pekan pertamanya pada Sabtu (15/4/2017). Salah satu hal menarik dari kompetisi ini dibanding kompetisi sepak bola level teratas Indonesia sebelumnya adalah penerapan regulasi pemain U-23.

Ya, pada kompetisi Liga 1 ini, setiap klub diwajibkan memainkan tiga pemain berusia di bawah 23 tahun dalam setiap pertandingannya. Dengan catatan tiga pemain itu harus diberikan waktu bermain minimal 45 menit dalam setiap pertandingannya.

Regulasi ini pun sempat membuat klub-klub kebingungan. Pasalnya, tak sedikit klub yang mengaku kesulitan mencari pemain muda berkualitas yang bisa menyamai level pemain-pemain senior. Tak hanya itu, pemanggilan para pemain U-23 ke Tim Nasional Indonesia pun membuat klub lebih kebingungan lagi.

Namun palu sudah diketuk, keputusan sudah diresmikan. Mau tidak mau, setiap klub harus mematuhinya. Saat ini pun setiap klub sudah memiliki para pemain U-23 yang siap mereka jadikan andalan di kompetisi Liga 1. Sebagian dari nama-nama itu merupakan pemain yang telah dikenal publik dan menjadi langganan Timnas junior maupun senior. Tapi tak sedikit nama-nama baru yang muncul.

Kami dari kumparan (kumparan.com) pun menilai dari banyaknya nama pemain u-23 yang siap tampil di Liga 1, ada beberapa nama yang patut diperhatikan karena berpeluang mencuat dan menjadi sorotan, serta menjadi bintang lapangan. Siapa saja mereka? Berikut tujuh nama dari kami:

– Terens Puhiri (Pusamania Borneo FC)

Terens Puhiri adalah salah satu pemain muda yang namanya menjadi sorotan sejak kompetisi Piala Presiden 2015 lalu. Berasal dari Papua, serta memiliki kecepatan dan teknik olah bola yang baik, nama Terens pun mencuat dan disebut-sebut sebagai “The Next Boaz Solossa”.

Pada kompetisi Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016 lalu pun Terens kembali menunjukkan jika ia memang mempunyai talenta besar. Bersama klubnya, PBFC, pemain kelahiran Jayapura itu berhasil mencetak lima gol dan empat assist dari total 31 penampilan. Sayang beberapa cedera sempat menghambat penampilannya.

Kini pada kompetisi Liga 1, Terens akan kembali menjadi andalan PBFC. Usianya memang baru menginjak 20 tahun, tetapi beban yang ada di pundaknya untuk membawa “Pesut Etam” berprestasi sudah cukup besar.

Jika kembali menunjukkan performa konsisten seperti di ISC atau seperti pada ajang Piala Presiden 2017 lalu di mana ia berhasil mengantarkan PBFC menembus partai puncak, nama Terens akan terhitung sebagai bintang.

– Rezaldi Hehanusa (Persija Jakarta)

Kepergian Andik Rendika Rama ke Madura United membuat pos bek kiri Persija lowong. Beberapa nama seperti Vava Mario Yagalo pernah dicoba sang pelatih, Stefano ‘Teco’ Cugurra, pada posisi tersebut. Arthur Irawan pun kemudian didatangkan untuk bermain di posisi bek kiri. Akan tetapi, pemain yang akan mengisi tempat itu adalah Rezaldi Hehanusa.

Usianya masih 21 tahun. Pada awalnya ia lebih sering bermain di posisi bek kanan. Akan tetapi, semenjak kepergian Rama, Rezaldi berhasil mencuri pos bek kiri Persija. Penampilan apiknya pada ajang Piala Presiden 2017 lalu plus beberapa latih tanding pun membuat Teco memujinya.

Pemain asli Tangerang itu perlu terus mempertahankan konsistensinya dalam bermain. Terutama dalam agresivitas membantu serangan dan tanpa kompormi dalam bertahan. Oleh karenanya, mengingat ia belum mendapat panggilan Timnas U-22 dan bisa tampil penuh di kompetisi Liga 1 kelak, nama Rezaldi pun patut disorot sebagai calon pemain muda yang bakal mencuat.

– Syamsul Bahri (Semen Padang)

4-4-2 adalah formasi andalan seorang Nilmaizar bersama Semen Padang. Dalam formasi itu, satu pos di lini depan sudah diisi oleh Marcel Silva Sacramento. Penyerang tajam asal Brasil ini tak bakal tergantikan. Yang menjadi pertanyaan, siapakah sosok yang akan menemani Sacramento?

Musim lalu mungkin ada sosok Nur Iskandar. Akan tetapi semenjak sang pemain hengkang ke Sriwijaya FC, kini pemain yang akan menemani Sacramento di lini depan “Kabau Sirah” adalah sosok muda, Syamsul Bahri. Pemain berusia 21 tahun ini baru direkrut pada tahun 2017 ini dari Persija U-21.

Kendati baru pertama kali mencicipi atmosfer level tertinggi sepak bola Indonesia, Syamsul terlihat cepat beradaptasi. Buktinya pada ajang Piala Presiden 2017 lalu dirinya mampu tampil apik sebagai rekan duet Sacramento. Pada kompetisi Liga 1 kelak pun Syamsul bakal menjadi tumpuan di lini depan.

Jika mampu menunjukkan penampilan konsisten atau bahkan bisa menjadi penyuplai bola yang bagus untuk Sacramento seperti apa yang dilakukan Nur Iskandar musim lalu, bukan tidak mungkin nama Syamsul akan membesar dan pintu Timnas U-22 terbuka untuknya.

– Ahmad Nur Hardianto (Persela Lamongan)

Hengkangnya Dendy Sulistyawan ke Bhayangkara FC tak perlu dikecewakan Persela larut-larut. Pasalnya saat ini mereka sudah menemukan pengganti yang sama bagusnya dalam sosok Ahmad Nur Hardianto. Secara postur Nur Hardianto tak kalah ideal sebagai sosok striker, pun begitu dengan penempatan posisi dan pergerakan tanpa bolanya.

Nur Hardianto pun sudah membuktikan jika ia mampu menjadi andalan Persela pada kompetisi Piala Presiden 2017 lalu. Kala itu pemain berusia 22 tahun ini berhasil mencetak dua gol dari tiga penampilan. Bahkan kemudian Pelatih Timnas U-22, Luis Milla, terpincut dan memanggilnya untuk mengikuti seleksi serta uji tanding.

Penampilannya di Timnas pun cukup baik, mencuat pada gim internal serta berhasil mencetak gol saat kontra Myanmar. Karenanya, pada kompetisi Liga 1 kelak, penampilan Nur Hardianto akan terus menjadi sorotan. Dan jika ia berhasil membayarnya dengan banyak gol, namanya akan diperhitungkan sebagai calon bomber andalan Timnas di masa depan.

– Yabes Roni (Bali United)

Lupakan insidennya dengan Michael Essien di laga uji coba. Karena Yabes Roni benar-benar memiliki talenta untuk mampu menjadi andalan Bali United di kompetisi Liga 1. Buktinya, satu gol berhasil ia ciptakan pada laga uji coba kontra Persib Bandung itu. Belum lagi penampilan apiknya pada Piala Presiden 2017 lalu yang sempat membuat Luis Milla tertarik memanggilnya.

Yabes, dengan kecepatan dan teknik individunya yang mumpuni, akan mengisi satu pos di sisi sayap Bali United. Perannya akan begitu vital mengingat Hans Peter Schaler menerapkan formasi 4-4-2 yang sangat mengandalkan sisi sayap dalam melancarkan serangan.

Selain mempertahankan konsistensi, hal lain yang harus dilakukan Yabes adalah memperbaiki emosi agar permainannya lebih dewasa dan semakin matang. Karena pemain berusia 22 tahun ini memiliki kesempatan tampil jauh lebih baik lagi daripada sebelum-sebelumnya.

– Ridwan Tawainella (PSM Makassar)

Tiga gol dan satu assist yang ditorehkan Ridwan Tawainella dalam kompetisi ISC A 2016 lalu memang bukan torehan mentereng. Akan tetapi torehan itu cukup sebagai pijakkan kariernya menuju musim-musim yang lebih baik. Usia Ridwan masih muda, 21 tahun, akan tetapi pemain kelahiran Tulehu ini bakal menjadi sosok andalan di lini depan PSM pada kompetisi Liga 1 kelak.

Pergerakannya yang lincah dan cepat bakal diandalkan Robert Rene Alberts dalam mengusung permainan menyerang dan mengandalkan umpan-umpan pendek. Selain itu, tusukan yang dilakukan Ridwan dari sisi sayap pun bakal menambah warna dalam skema serangan PSM yang biasanya bertumpu pada sisi tengah.

Pemain yang diorbitkan sendiri oleh Rene Alberts itu pun siap untuk kembali mencuat seperti akhir musim lalu dan membayar kepercayaan pelatih asal Belanda itu dengan permainan yang lebih baik. Jumlah gol dan assist-nya pun bisa bertambah lebih banyak dibanding ajang ISC A 2016 lalu.

– Hanif Sjahbandi (Arema FC)

Permainannya sepanjang Piala Presiden 2017 lalu begitu baik. Bermain dengan siapapun di lini tengah Arema, Hanif mampu beradaptasi dengan cepat dan tetap menunjukkan daya jelajah yang tinggi. Selain itu, aksinya yang ngotot dalam membantu pertahanan pun begitu dibutuhkan Aji Santoso.

Soal membantu serangan, dia pun cukup kreatif dan selain itu juga memiliki tendangan keras yang bisa menjadi senjata lain. Hanif adalah sosok komplet yang dibutuhkan Arema di lini tengah. Dan karena kemampuan itu pula ia kemudian dipanggil Luis Milla untuk mengisi pos lini tengah Timnas U-22.

Hanif memang telah mencuat saat ini. Tapi pada kompetisi Liga 1 kelak, namanya bisa semakin besar. Terlebih jika mampu terus menunjukkan konsistensi, dirinya bisa menjadi kunci Arema dalam mmperebutkan gelar juara. “Singo Edan” pun bisa dengan ikhlas melupakan kepergian Raphael Maitimo.

Komentar
To Top