Sinisa Mihajlovic, Korban Terkini Sepak Bola Instan

👍 Sepakbola Italia

Sinisa Mihajlovic, Korban Terkini Sepak Bola Instan

Sinisa Mihajlovic, Korban Terkini Sepak Bola Instan

indolivescore.com – “Sepak bola memang kejam”. Kalimat itulah yang mungkin terlontar dari mulut para pelatih yang harus merasakan palu pemecatan di musim ini.

Sinisa Mihajlovic menjadi nama terkini yang jadi korban sepak bola “instan”. Pelatih asal Yugoslavia itu dipecat hanya beberapa hari setelah Milan takluk 1-2 dari Juventus pada giornata ke-32, akhir pekan kemarin.

Miha -sapaan akrabnya- dinilai gagal mewujudkan ekspektasi klub yang memasang target tampil di kompetisi Eropa musim depan. Sejauh ini, Miha hanya mampu membawa Milan duduk di posisi enam klasemen sementara, dan melaju ke final Coppa Italia.

Grafik Milan 2015--2016
(Foto: Rapor Milan di bawah arahan Sinisa Mihajlovic/Fussballdaten)

Catatan ini sebenarnya masih jauh lebih baik dari apa yang ditorehkan pendahulunya, Filippo Inzaghi yang hanya mampu menempatkan Milan di posisi 10 pada pekan ke-32.

Grafik Milan 2015--2016
(Foto: Rapor Milan di bawah arahan Filippo Inzaghi/Fussballdaten)

Namun, inilah risiko yang harus dihadapi pelatih di mana belakangan ini klub-klub lebih mementingkan hasil dibanding proses.

Mihajlovic merupakan satu dari sekian banyak pelatih yang jadi korban sepak bola instan. Pada musim ini, sudah ada lebih dari 10 pelatih yang harus terdepak lantaran dinilai gagal membawa klubnya tampil kompetitif.

Dari Spanyol, ada nama Rafael Benitez yang dipecat Real Madrid. Ada juga Gary Neville yang didepak Valencia. Keduanya juga belum genap semusim menukangi klub.

Di Inggris, beberapa nama pelatih top macam Jose Mourinho (Chelsea), Remy Garde (Aston Villa), Tim Sherwood (Aston Villa), hingga mantan pelatih Timnas Inggris, Steve McClaren juga tak luput dari pemecatan.

Sementara dari Italia, Palermo jadi klub yang paling kejam. Bagaimana tidak, di musim ini mereka sudah sembilan kali memecat pelatih. Terakhir adalah Walter Novellino yang jadi korban setelah hanya tujuh laga memimpin klub.

Klub-klub sekarang menjadikan hasil sebagai tolak ukur. Hal itu memang sah dilakukan. Namun, tidak adil rasanya apabila mereka tidak mempertimbangkan faktor lain seperti gaya main, kondisi skuat, dan sebagainya.

Pergantian pelatih memang bisa saja membuahkan hasil positif. Namun yang pasti, mengganti pelatih tidak bisa memberikan jaminan sukses. Sebab, tidak ada yang “instan” dalam sepak bola.

Beberapa tim seperti PSG dan Manchester City memang sukses membangun tim secara instan. Namun, mereka berhasil melakukannya karena didukung dana yang kuat. Kondisi finansial dua klub tersebut sangat sehat karena diakuisisi oleh pengusaha dari Timur Tengah.

Bagaimana dengan Milan? Rossoneri sepertinya sulit untuk bisa mengikuti jejak PSG dan City. Ini tidak lepas dari krisis finansial yang terus menggerogoti klub besutan Silvio Berlusconi dalam beberapa musim terakhir.

Memang, dalam beberapa bulan terakhir Milan erat dikaitkan dengan pengusaha asal Thailand, Bee Taechaubol yang digosipkan bakal membeli sekitar 35 persen saham Milan. Namun, hingga kini kabar tersebut masih jauh panggang dari api. Harapan Milanisti untuk melihat nama-nama besar bergabung ke San Siro masih sebatas mimpi.

Krisis finansial memang tidak bisa dipungkiri sebagai salah satu faktor utama yang membuat performa Milan merosot dalam beberapa musim terakhir ini. Namun, bukan ini satu-satunya faktor jebloknya prestasi Milan.

Ketidakcerdikan para pengambil kebijakan klub juga pantas disalahkan. Silvio Berlusconi dan Adriano Galliani telah melakukan blunder besar saat melepas sejumlah pemain andalan macam Gennaro Gattuso, Zlatan Ibrahimovic, Alessandro Nesta, Filippo Inzaghi, Clarence Seedorf, Andrea Pirlo dan Thiago Silva.

Mereka semua dilepas hanya dalam kurun dua musim (2011–2012, san 2012–2013). Padahal, saat itu Milan belim memiliki penerus yang mumpuni. Terlepas itu karena alasan menyeimbangkan neraca klub, seharusnya mereka tidak kelewat percaya diri dengan nama besar Milan.

Kesalahan tersebut langsung memberikan dampak negatif. Perlahan tapi pasti Milan menunjukkan grafik permainan menurun. Sejak terakhir kali meraih scudetto pada musim 2010–2011, Milan terus mengalami penurunan prestasi. Klimaksnya, mereka harus absen di Liga Champions dalam dua musim terakhir –mungkin tiga dengan musim ini–.

New Picture (8)
(Foto: Grafik pencapaian AC Milan di tiap musim/Fussballdaten)

Uniknya, pelatih selalu jadi kambing hitamnya. Mulai dari Leonardo, Clarence Seedorf, Filippo Inzaghi, dan kini Sinisa Mihajlovic harus menghadapi palu pemecatan di musim pertamanya. Siapa lagi korban berikutnya?

Komentar
To Top